Cemara itu pernah berdiri tegak kokoh
batangnya bak tubuh singa nemea yang tak tertembus panah hercules
akarnya besar dan kuat menghunjam dalam ke perut bumi,
Cemara itu pernah berdiri indah
daun jarumnya bisikkan doa tengadah
rantingnya adalah rangkaian labirin tanpa ujung,
Tapi kini,
tak ada lagi batang kokoh indah itu ,
entah kemana air bah membawanya ,
lalu,
bersama siapa angin akan melantunkan nyanyiannya
ke mana lagi burung prenjak akan menitipkan anaknya,
Tuhan,
aku gagap membaca pesan Mu
ini murka atau coba..

akhirnya kitaharus membenamkan dalam2 do’a dan mantra2 kita….
memasrahkan istighfar pada putaran jagat raya
hanya kepada NYA
Ebiet : …alam mulai enggan, bersahabat dengan kita…
Tapi biarlah ia ‘mengatur’ keseimbangannya sendiri
karena kita lalai, tetapi kalap melahap…
Esok, atau lusa, giliran kita akan ‘dilahapnya’ bersama badai yang datang
NB : sahabat akan tetap tersenyum…
two thumbs for you.
gak nyangka dengan perawakan yang ng-rambo ada hati yang begitu lembut..
:matur nuwun pak wahyu atas commentnya….gimana khabarnya?..sing bener perawakan nge- ra_mbody hati rodo medeni..