Mumpung masih di Medan, akhir tahun 2007 kemarin kami sekeluarga mengunjungi serambi mekah. Dengan menggunakan kendaraan sendiri waktu tempuh Medan-Aceh kurang lebih 10 jam. Kondisi jalan yang dilalui cukup bagus, memang agak sempit dan sedikit berliku tetapi hampir tidak ada lubang, karena aspalnya masih baru. Sepanjang jalan kami disuguhi jajaran pohon kelapa sawit, dan ini adalah pemandangan yang lazim akan kita jumpai bila melewati jalan lintas di Sumatera. Lewat Maghrib kami baru tiba di Banda Aceh. Esok paginya kami baru bisa jalan jalan dan menyaksikan bekas-bekas dahsyatnya tsunami, yang memporak-porandakan NAD. Kebetulan saat itu bertepatan dengan peringatan 3 tahun tsunami, seremnya kami merasakan gempa yang lumayan kencang dengan durasi yg agak lama. Karena masih trauma dengan kejadian 3 tahun lalu, semua orang langsung lari berhamburan keluar rumah…Allahu Akbar..
Kapal PLTD yang besar ini terlempar dari pantai yang berjarak kurang lebih 10 KM dari tempat sekarang dia duduk manis,
Allahu Akbar…, mesjid ini tetap berdiri kokoh ketika tsunami menghantamnya. Pada waktu renovasi sengaja dibiarkan bagian yang rusak, jangan lupakan tsunami!!
Dulu katanya disini berjajar hutan cemara yang melingkupi sebuah padang golf..
Ibunya anak-anak..




bencana (kematian) menghadirkan tragedi bagi yang hidup karena di situ Dia hendak menyampaikan pesan kepada kita (cie….ile…)
Sip gus, ditunggu reportase-nya yang lain lagi…
Saya sempat 3 tahun di Aceh dan skrg sudah kembali ke Jakarra lagi … malah gak punya foto-foto kayak mas Andhy punya …
salut !!!!
he he he, biasa gus kun, seperti orang semarang malah nggak pernah makan bandeng presto atau wingko. Terima kasih atas kunjungannya.Saya pasti balik kunjung.
foto-fotonya disimpan yang baik dan aman ya Mas Andy, nanti kalo saya bikin biografi pinjam fotonya …..
siap……!!!
Padang golfnya masih kalah keren sih kalo dibandingin dgn tempatnya antassari azhar mukul,,,,,,,