Hujan di bulan Juni (Manusia Berulah Iklim Global Berubah….)

19 06 2008

terinspirasi kang imam yang risau karena hujan turun di bulan Juni yang membuatnya ingat pada Sapardi Djoko Damono ; disarikan dari berbagai sumber

Masih sangat membekas pelajaran SD dulu tentang musim, dijelaskan bahwa musim kemarau di Indonesia terjadi pada bulan April s.d. Oktober dan musim hujan terjadi pada bulan Oktober s.d. April. Sehingga ada ungkapan-ungkapan yang berkaitan dengan hal ini, seperti Desember adalah akronim dari gede-gedene sumber (besar-besarnya sumber), atau Januari berarti hujan sehari hari, yang hendak menegaskan bahwa hujan turun lebat pada bulan-bulan tersebut. Tetapi apa yang kita alami sekarang, Desember kemarin udara terik masih kita nikmati, Januari pun hujan hanya sesekali, bahkan hujan masih turun di bulan juni. Akibat yang lebih luas adalah gagal panen, krisis air bersih maupun kebakaran hutan .Hasil penelitian NASA menunjukkan perbuatan manusia dalam kaitan perubahan iklim telah memberi dampak yang sangat luas terhadap sistem alam, termasuk pencairan lapisan es, mekarnya tanaman lebih cepat di Eropa, dan turunnya produktivitas danau di Afrika.  Sejak diketahui kandungan gas di atmosfer, kita mengenal “gas rumah kaca” Sebetulnya yang dikenal sebagai ‘gas rumah kaca’, adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaan Bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, atau kalau tidak, maka tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka Bumi ini. Gas rumah kaca terutama terdiri dari Karbon-dioksida dan uap air. Dan bila terjadi peningkatan konsentrasi karbon-dioksida akan terjadi peningkatan temperatur permukaan secara signifikan. Yang menjadi pemicu utama peningkatan konsentrasi karbon-dioksida adalah peningkatan penggunaan bahan bakar fosil, ditambah dengan perubahan permukaan bumi dengan dibukanya lahan-lahan pertanian serta penggundulan hutan. Peningkatan temperatur ini akan berpengaruh pada pergerakan arus laut. Arus laut , baik yang bergerak di permukaan maupun di kedalaman berperan dalam iklim di Bumi dengan cara menggerakkan air dingin dari kutub ke daerah tropis dan sebaliknya. Sistem arus global yang mempengaruhi iklim di Bumi ini biasa disebut sebagai Great Ocean Conveyor Belt atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut sebagai “Sabuk Arus Laut Dunia”.  Sistem itu sekarang berantakan akibat pemanasan global yang terjadi. Maka tak ayal lagi terjadilah hujan bulan Juni .

Lalu apa yang harus kita lakukan, apapun mari kita mulai dari diri kita setidaknya untuk membuat lingkungan di sekitar kita jadi lebih nyaman untuk dihuni. Kurangi pemakaian bahan bakar fosil, memilih berjalan kaki atau bersepeda untuk bepergian dalam jarak yang dekat. (awalilah dari yang tersederhana….)





Menulis itu ternyata (tidak) mudah….

19 06 2008

Setelah sekian lama mencoba mengumpulkan segenap tenaga dalam, pikiran sehat dan membuang jauh jauh pikiran kotor ternyata tak rampung juga sebuah tulisan yang bisa diposting. Cuma ide-ide bersliweran yang sepertinya enggan singgah di otakku untuk sekedar berdiskusi bahkan untuk sekedar basa – basi. Membaca blog blog lain ternyata tidak begitu menolong. Khawatir akan keterusan jadi pengekor atau bahkan plagiator. Memang menulis itu ternyata tidak mudah. Saya coret tidak karena seharusnya menulis itu mudah. Katanya sih yang diperlukan adalah pembiasaan. Kalau saya ingat-ingat memang dari kecil saya jarang sekali menulis. Waktu SD memang ada pelajaran mengarang, tetapi waktunya sedikit sekali  karena hanya mengambil sebagian jam pelajaran Bahasa Indonesia, itupun temanya nggak jauh dari berlibur di rumah nenek atau kakek (kasihan ya yang sudah nggak punya nenek/kakek…).  Bahkan pelajaran mengarang sudah tidak ada lagi pada jenjang pendidikan berikutnya. Tetapi saya tidak hendak mengritik tentang kurikulum pendidikan di Indonesia. Toh tanggung jawab  kita juga memberi contoh dan membiasakan anak kita untuk menulis tentang apa saja . Kegiatan menulis yang paling rutin saya lakukan adalah menulis surat buat orang tua pada waktu kuliah di luar kota, yang sekarang jarang dilakukan oleh sebagian besar orang dengan dalih kemajuan teknologi. Sebenarnya dalam hal hal tertentu lebih enak dan pas kalau kita menyampaikannya lewat surat lho.

Tulisan dapat dibedakan dalam 2 (dua) kelompok besar yaitu fiksi dan non fiksi. Perbedaannya pada format , alur/kerangka serta literasi . Pada fiksi dibutuhkan lebih sedikit literasi, lebih banyak imaginasi. Format dan alurnya pun lebih luwes sesuai keinginan dan pengalaman penulis. Karena tidak baku, bagus tidaknya suatu tulisan fiksi sangat tergantung pada apresiasi pembaca, bukan pada standard tertentu. Orang bilang Laskar Pelangi bagus sekali, tetapi kalau saya lebih suka Toto Chan. Isteri saya selalu bertanya kenapa saya suka membaca tulisannya Pramoedya, karena menurut dia lebih enak membaca Jantera Bianglala nya Ahmad Tohari. Ada yang suka membaca pusi yang penuh dengan metafora, tetapi ada pula yang suka membaca pusi yang jelas maksudnya.Tetapi normalnya kalau sebagian besar pembaca bilang bagus, berarti tulisan tersebut bisa dikatakan bagus.

Tulisan non fiksi banyak bentuknya, mulai dari tulisan yang dibuat untuk keperluan akademis, essay, jurnal dsb. Dibutuhkan lebih banyak literatur untuk membuat tulisan ini. Bagus tidaknya tulisan ada standard nya.

Tapi yang jelas untuk menulis mengharuskan kita banyak membaca, setidaknya untuk memperkaya kosa kata dan thema tulisan.

Mari, membiasakan menulis tentang apa saja….sehingga “menulis bisa menjadi mudah”, ajari juga anak anak kita….

(awali dari yang tersederhana,…)