Menulis itu ternyata (tidak) mudah….

19 06 2008

Setelah sekian lama mencoba mengumpulkan segenap tenaga dalam, pikiran sehat dan membuang jauh jauh pikiran kotor ternyata tak rampung juga sebuah tulisan yang bisa diposting. Cuma ide-ide bersliweran yang sepertinya enggan singgah di otakku untuk sekedar berdiskusi bahkan untuk sekedar basa – basi. Membaca blog blog lain ternyata tidak begitu menolong. Khawatir akan keterusan jadi pengekor atau bahkan plagiator. Memang menulis itu ternyata tidak mudah. Saya coret tidak karena seharusnya menulis itu mudah. Katanya sih yang diperlukan adalah pembiasaan. Kalau saya ingat-ingat memang dari kecil saya jarang sekali menulis. Waktu SD memang ada pelajaran mengarang, tetapi waktunya sedikit sekali  karena hanya mengambil sebagian jam pelajaran Bahasa Indonesia, itupun temanya nggak jauh dari berlibur di rumah nenek atau kakek (kasihan ya yang sudah nggak punya nenek/kakek…).  Bahkan pelajaran mengarang sudah tidak ada lagi pada jenjang pendidikan berikutnya. Tetapi saya tidak hendak mengritik tentang kurikulum pendidikan di Indonesia. Toh tanggung jawab  kita juga memberi contoh dan membiasakan anak kita untuk menulis tentang apa saja . Kegiatan menulis yang paling rutin saya lakukan adalah menulis surat buat orang tua pada waktu kuliah di luar kota, yang sekarang jarang dilakukan oleh sebagian besar orang dengan dalih kemajuan teknologi. Sebenarnya dalam hal hal tertentu lebih enak dan pas kalau kita menyampaikannya lewat surat lho.

Tulisan dapat dibedakan dalam 2 (dua) kelompok besar yaitu fiksi dan non fiksi. Perbedaannya pada format , alur/kerangka serta literasi . Pada fiksi dibutuhkan lebih sedikit literasi, lebih banyak imaginasi. Format dan alurnya pun lebih luwes sesuai keinginan dan pengalaman penulis. Karena tidak baku, bagus tidaknya suatu tulisan fiksi sangat tergantung pada apresiasi pembaca, bukan pada standard tertentu. Orang bilang Laskar Pelangi bagus sekali, tetapi kalau saya lebih suka Toto Chan. Isteri saya selalu bertanya kenapa saya suka membaca tulisannya Pramoedya, karena menurut dia lebih enak membaca Jantera Bianglala nya Ahmad Tohari. Ada yang suka membaca pusi yang penuh dengan metafora, tetapi ada pula yang suka membaca pusi yang jelas maksudnya.Tetapi normalnya kalau sebagian besar pembaca bilang bagus, berarti tulisan tersebut bisa dikatakan bagus.

Tulisan non fiksi banyak bentuknya, mulai dari tulisan yang dibuat untuk keperluan akademis, essay, jurnal dsb. Dibutuhkan lebih banyak literatur untuk membuat tulisan ini. Bagus tidaknya tulisan ada standard nya.

Tapi yang jelas untuk menulis mengharuskan kita banyak membaca, setidaknya untuk memperkaya kosa kata dan thema tulisan.

Mari, membiasakan menulis tentang apa saja….sehingga “menulis bisa menjadi mudah”, ajari juga anak anak kita….

(awali dari yang tersederhana,…)


Tindakan

Information

3 tanggapan

19 06 2008
bapakethufail

menulis adalah tidak susah
memberi makna pada tulisan yang tidak mudah
sebagaimana membaca…
adalah tidak gampang
memaknai bacaan yang kadang kita gamang

S U K S E S !!!!
Bagus banget…….

terima kasih kang, sudah menularkan virus bloging nya. Tapi seperti kata Tukul pujian adalah teror (he he he..).Memaknai apa saja dengan benar memang saya rasakan susah sekali, tetapi harus saya jalani

8 07 2008
pingkanrizkiarto

tulis aja dulu semua, semuaaaaa yang mo ditulis, koreksi kerjaan paliiiing belakang. Soalnya kalo sibuk nulis dikit koreksi, nulis dikit koreksi, malah nggak maju-maju, nggak selesai-selesai…..
Ups, sok tahu ya…. ? cuma sedikit tips paling sederhana saja

9 07 2008
masandhy

Nah, ini dia tips nya. Kok pas banget, soalnya aku ya ngalami nulis ngoreksi, nulis ngoreksi (maklum pemula). Suwun bu’

Tinggalkan komentar